oleh

Basuki Tukang Sol Sepatu Keliling Dengan Berjalan Kaki Hingga Tugumulyo Bahkan Sampai Muara Beliti

kabarkan. Co. id – Lubuklinggau –– Hidup adalah perjuangan itulah kata yang di ucapkan oleh seorang penjahit sepatu keliling atau biasa di kenal dengan jasa Sol sepatu saat di ajak berbincang di sela pekerjaannya menjahit sepatu pelanggan di Jalan Timor Rt.01.Kota Lubuklinggau. Selasa (23/01/2024).

Basuki (37) seorang tukang Sol sepatu yang asli berasal dari Kediri, Jawa Timur dan mempunyai dua orang anak cewek yang masing-masing berusia 8 tahun dan tujuh bulan menceritakan kisah hidupnya hingga bisa menjadi Tukang Sol sepatu keliling di Lubuklinggau.

Berawal dari ketika dia masih di Jawa Timur atau tepatnya di Kediri dia melihat tetangganya yang pulang dari merantau di daerah Sumatera dan membawa hasil yang lumayan sehingga dapat membuka usaha toko kelontongan di Kampungnya.

Lantas Basuki mendapatkan informasi dari tetangganya tersebut bahawa di Sumatera gajinya lumayan besar dan hal itulah yang memicu dirinya merantau ke Sumatera dan anehnya dia tidak pula menanyakan Sumatera mana.

Berbekal informasi dan hal nyata yang telah dia lihat atas kesuksesan tetangganya tersebut Basuki lantas nekat berangkat ke Sumatera dengan meninggalkan keluarganya yang ada di Jawa Timur.

 

Keberangkatannya pun tanpa tujuan yang jelas pokoknya ke Sumatera jelasnya saat di Wawancarai, Bahkan dirinya sempat menjadi gelandangan dalam beberapa waktu.

 

” Saya sempat jadi gelandangan mas saat sampai di Sumatera ini, tidur di pinggir toko kadang masjid atau Mushola, Namun saya tidak putus asa terus harus mencari pekerjaan apa saja yang penting halal walaupun kadang-kadang pas dapat kerja gak di bayar orang”, ucapnya dengan raut wajah sedih.

Setelah perjuangan panjang hal itu bisa dia lalui dan saat ini Basuki telah bisa mengontrak rumah sendiri di gang Makruf yang dia huni dengan istri dan kedua anaknya.

Basuki menawarkan jasa Sol sepatu dengan berjalan kaki keliling kota Lubuklinggau bahkan dirinya sampai daerah Tugumulyo dan juga Muara Beliti yang dia tempuh juga dengan berjalan kaki.

Saat di tanyakan mengapa tidak menggunakan sepeda dirinya menjelaskan bahwa dulu ada yang kasih sepeda tapi sayangnya sepeda itu harus hilang saat dia sedang Sholat Jum’at.

 

“Dulu pernah mas saya di kasih sepeda sama orang Margamulya tapi saat saya sedang Sholat jum’at ketika keluar dari selesai sholat sepeda tersebut telah diambil orang.” ujarnya.

Basuki juga menambahkan bahwa sebenarnya pingin pulang ke Jawa tapi itulah gak ada ongkos sedangkan untuk kehidupan sehari-hari saja sudah susah apalagi semenjak Covit kemarin pendapatannya jauh menurun.

” Dulu sebelum Covit saya bisa bawa uang pulang ke rumah uang Rp. 80 ribu hingga Rp. 100 ribu tapi sekarang paling Rp. 40 Ribu sampai 50 Rb, kadang malah gak sampai bisa Cuma Rp. 30 ribu. ” Ceritanya dengan mata agak basah.

 

Berapa Tarif yang di kenakan untuk satu pasang sepatu atau ganti tapak sepatu dia menjawab hanya sepuluh ribu rupiah.

“Cuma sepuluh ribu mas untuk satupasang sepatu dan untuk ganti tapak sepatu saya harus beli dulu karena saya tidak membawa stok atau kalau orang nya percaya bisa di bawa dulu untuk mencari yang ukuran cocok ” tukasnya.

 

Terakhir saat berbincang dia mengatakan bahwa semuanya mungkin sudah jadi takdir yang Tuhan berikan yang terpenting tak henti berdoa untuk tetap dalam keadaan sehat demi menafkahi anak istrinya. (Ysf)

 

Komentar