oleh

Untuk Masyarakat Yang Percaya, Ziarah Ke Makam Ki Ageng Balak Hajat Lekas Tercapai

-Nasional, Sumsel, Wisata-307 Dilihat

Kabarkan.Co.id –JAWA TENGAH – Salah satu makan yang sangat terkenal di Jawa Tengah adalah Makam Ki Ageng Balak, Makam tersebut terletak di Desa Mertan, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

Nama Asli Ki Ageng Balak adalah Raden Sujono yang mana nama tersebut semakin tidak Familiar karena jarang di sebut dan lebih terkenal dengan nama Ki Ageng Balak.

Biasanya pengunjung akan membludak pada hari – hari atau bulan tertentu misalnya seperti pada bulan Suro yang dianggap sakral bagi masyarakat Jawa pada umumnya.

Untuk memasuki Makam tersebut kita akan di kenakan tarif sebesar Rp. 7000 (tujuh ribu rupiah) yang dapat kita bayarkan saat akan memasuki areal Makam.

Menurut informasi yang kami dapatkan
Pada awalnya makan Ki Ageng Balak pertama kali di buka untuk umum bahkan pada masa sebelum Indonesia merdeka yaitu pada Tahun 1924.

Hal ini merujuk pada pengakuan seorang peziarah yang usianya lebih dari seratus tahun, dan informasi ini hanya berdasarkan cerita dari masyarakat soal kebenarannya belum dapat di pastikan.

Nama Ki Ageng Balak itu sendiri memiliki beragam panggilan atau versi Ada yang menyebut Ki Ageng Balak itu awalnya adalah seorang pangeran dari zaman Kerajaan Majapahit.

Ki Ageng Balak juga disebut sebagai pendiri salah satu Desa yang ada di Jawa Tengah yaitu Desa Mertan, Dalam kehidupan nya Ki Ageng Balak selalu mengajarkan kebaikan dan berbagi kepada sesama.

Dari sekian banyak versi tentang Ki Ageng Balak yang paling populer adalah
Ki Ageng Balak adalah Raden Sujono, putra Prabu Brawijaya V. Yang berasal dari kerajaann Majapahit.

Ki Ageng Balak alias Raden Sujono dahulu merupakan seorang Pradot Agung atau istilah sekarang seorang Hakim dalam keraton kerajaan Majapahit.

Dalam kisahnya Raden Sujono di paksa menikah oleh Prabu Brawijaya V namun karena tidak mau, dia secara diam-diam pergi meninggalkan kerajaan Majapahit.

Ketika dalam perjalanan meninggalkan kerajaan Raden Sujono di hadang oleh dua perampok, Keduanya bernama Simbarjo dan Simbarjoyo.

Dalam pertarungan tersebut Raden Sujono berhasil mengalahkan keduanya sebagai konsekuensinya mereka sepakat untuk menjadi Abdi dalem.

Sementara sepeninggalan Raden Sujono, kondisi Majapahit mulai berubah. Semula adem ayem gemahripah lohjinawi, berubah menjadi pageblug (banyak musibah).

Gagal panen melanda hampir semua petani, selain banyak hama wereng juga timbul wabah penyakit sehingga membuat Raja Brawijaya V panik.

Melihat kondisi Majapahit, Brawijaya V berdoa hingga akhirnya mendapat petunjuk dari Sang Hyang Widi bahwa yang bisa menyelesaikan masalah tersebut hanya Raden Sujono.

Prabu Brawijaya V lantas memerintahkan pasukan mencari keberadaan Raden Sujono untuk membawanya pulang.

Namun Raden Sujono menolak untuk kembali ke Majapahit, Ki Balak hanya memberikan saran dan prasarana yang harus dilakukan oleh Prabu Brawijaya V untuk memulihkan kondisi Majapahit.

Setelah menjalani saran dan syarat yang di berikan oleh Raden Sujono Kerajaan Majapahit lambat laun kondisi kembali pulih.

Berdasarkan cerita itulah, Raden Sujono/Ki Balak di kenal bisa menyelesaikan berbagai masalah, Hingga saat ini makamnya terkenal sebagai spesialis menyelesaikan masalah yang terjadi.

Sedangkan untuk nama Ki Ageng Balak menurut masyarakat memiliki dua arti dan merupakan turunan dari kisah yang terjadi tersebut.

Balak dalam bahasa Jawa adalah mbalelo atau membangkang/Melawan.

Hal ini di kaitkan saat Raden Sujono Ini karena dia menolak perintah Prabu Brawijaya V ketika diminta menikah dan juga saat diminta pulang ke Majapahit.

Sedangkan arti Balak yang kedua, Balak Pageblug yang mana kala itu Kerajaan Majapahit mengalami Musibah dan Raden Sujono mampu menyelesaikan persoalan tersebut.

Hingga saat ini Makam tersebut masih sangat banyak peziarah yang datang bukan hanya dalam kota tetapi juga bahkan hingga luar pulau Jawa.

Biasanya peziarah luar kota bahkan hingga menginap berhari-hari dan tidur di sekitar area pemakaman karena terdapat aula pada bangunan Makam tersebut..

Kisah di atas hanya dari sumber cerita masyarakat yang beredar untuk lebih detail nya belum ada bukti yang benar-benar mendukung kisah tersebut. (*)/ ysf

Komentar